Monday, April 03, 2006

 

Creepy Baby

Majikan masih ngejogrog di depan saya. Sibuk ngetik ini itu. Speaker kecil warna putih dibiarkan dalam posisi mengangkang di atas saya. Apa susahnya, sih, tinggal colok ke walkman. Kasih sedikit hiburan ke kita orang, biar cuma lagu-lagu 80-an. Dari pada sepi seperti sekarang. Kayak kuburan, rumahnya si "creepy baby."

Ngomong2 soal "creepy baby," saya kasih bocoran cerita majikan saya sama istrinya.

Satu malam, sepulang kantor, ada keramaian di depan rumah Pak RT. Ternyata bayinya yang baru lahir meninggal karena kelainan jantung.

"Gimana, ngelayat, nggak?Apa besok aja?" tawar majikan saya
"Sekarang aja, deh. Nggak enak lagi, ke-gap pulang kantor masak langsung masuk rumah. Tuh, di depan rumah Pak RT banyak yang nongkrong.
"Ya udah."

Majikan saya dan istri jalan pelan-pelan ke rumah Pak RT. Makin dekat makin banyak orang.
Sampai dalam rumah salaman sama Pak RT sambil mengucapkan belasungkawa.

"Tuh, jenazah bayi saya," kata Pak RT sambil nunjuk ke arah jenazah bayi dibungkus kain batik, jarak cuma setengah meter dari tempat majikan saya dan istri duduk.

Majikan saya dan istri nggak berani ngeliat wajah si bayi. Tadi udah liat sekilas dan perasaan putih banget, kekuning-kuningan, malah. Kayak boneka porselen. Mau nundukin kepala terus nggak enak sama Pak RT, mau nengadah bener2 kaget campur nggak percaya liat ada wajah seputih itu. Ya, iyalah, namanya juga mayat. Bego juga, nih, majikan saya. Masalahnya mereka berdua belum pernah liat jenazah bayi.

Pulang dari rumah Pak RT, majikan saya dan istri nggak ada yang berani tidur deket jendela. Bayangan jenazah bayi pak RT masih menari-nari di kepala mereka. "Creepy baby," kata istrinya.

Comments: Post a Comment



<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?