Tuesday, April 11, 2006

 

Aneh Tapi Nyata (2)

Mari kita lanjutkan cerita tempo hari.

Singkat kata, anak kuliahan yang kecabulannya sangat di-saport bapaknya itu pengen ketemuan sama Nunik. Meski nggak habis pikir harus keluar ekstra tenaga dan pikiran buat ngeberesin masalah maha nggak penting tapi bikin pusing ini, dua editor Nunik memutuskan ngedampingin si anak buah. Soalnya, si anak cabul udah ngasih ancaman fisik, kasian aja si Nunik pulang ketemuan kena bogem mentah.

Dalam pertemuan tripartit itu, anak cabul sekali lagi mengkritik Nunik yang dianggap telah sembarangan dalam memperlakukan materi pendukung liputan ("kok, anda bisa sembrono, sih? setau saya, kode etik jurnalisme mengharuskan seorang wartawan berhati-hati pekerjannya") dan mengultimatum majalah Eksotika yang sama harus kembali ke pangkuannya dalam waktu 3 x 24 jam, dalam kondisi prima, tidak boleh lecek dan kumal, apalagi terlipat halamannya. "Kalau anda nggak sanggup, kita ketemuan lagi buat ngomongin langkah selanjutnya," kata anak cabul dengan pongah.

Denok, editor Nunik, menawarkan diri membantu mencari majalah pengganti. Sayangnya, di mana-mana sudah habis. Pun, di kantor redaksi malajah itu sudah tidak ada yang tersisa, karena habis disita polisi dalam razia majalah esek-esek beberapa bulan lalu. Satu-satunya opsi adalah meminta langsung dari kantor polisi yang menggrebek. Denok pun menulis permohonan permintaan majalah dengan alasan kantor sedang melakukan investigasi apalah.

Bapak anak cabul ternyata tidak tinggal diam. Dia meminta sekretarisnya menghubungi seorang paranormal yang pernah sukses melacak keberadaan sebuah benda hilang di kantor mereka. Sayangnya, begitu tahu benda yang hilang kali ini adalah majalah cabul, sang paranormal menolak membantu. Mungkin menurut dia keberhasilan menemukan majalah berisi gambar cewek bugil tidak cukup elegan untuk dimasukkan ke dalam portfolio.

Sanggupkah Denok menemukan majalah pengganti untuk si anak cabul? Cerita berhenti di sini dulu. Saya mau ngintip daftar pertanyaan yang akan diajukan majikan saya nanti malam saat mewawancara seorang wakil rakyat yang hobi menggendong boneka orangutan ke berbagai resepsi. Siapa tau ada yang lucu buat ditulis di sini.

Monday, April 10, 2006

 

Aneh Tapi Nyata (1)

Biar cuma benda mati, jadi meja ada enaknya juga. Saya bisa denger semua obrolan majikan dengan teman-teman, percakapan teleponnya dengan istri, sampai cerita-cerita aneh yang kalo dipikir-pikir nggak bakal terjadi, tapi kok, ya, terjadi juga. Salah satunya cerita tentang sebuah kejadian yang dialami teman kantor istri majikan saya.

Satu hari, seorang reporter, sebut saja Nunik, dapet tugas dari editornya buat nulis artikel tentang pornografi di Indonesia. Entah bagaimana, seorang bapak2 staf HRD mendengar penugasan ini dan dengan nada bangga dan setengah memaksa ingin meminjamkan Nunik koleksi majalah sensual yang dilanggani anaknya (!) sebagai bahan referensi tulisan. "Wah, anakku langganan majalah Eksotika, isinya ya cewek2 setengah telanjang gitu. Bagus, kok. nanti ta' pinjemi, ya, ya, ya?"

Nunik mati2an nolak, karena ngerasa baca majalah itu gak bakal ngasih kontribusi banyak ke tulisan yang dia buat. Tapi si bapak keukeuh. Dia akan minjemin dengan catatan nggak boleh dipinjemin ke siapa2 dan harus dikembalikan dalam keadaan utuh. BEsoknya, si majalah eksotik itu udah ada di meja Nunik, tersimpan dalam amplop coklat. Sesuai prediksi Nunik, isi majalah itu nggak penting banget. Cewek2 dalam berbagai pose menantang pake ke bikini, kemben, hot pants, dsb. Setelah dipinjamkan ke dua orang editor Nunik, majalah itu dimasukkan kembali ke dalam amplop coklat dan diletakkan di atas meja.

Besok paginya, majalah itu hilang.

Nunik panik, dan mencari-cari ke segala penjuru kantor, tapi nggak ketemu. Setau dia, sebelum pulang tadi malam, majalah itu tersimpan rapi di atas meja. Dia pun lapor ke pemilik majalah. Bukannya menenangkan Nunik, si bapak malah ikutan panik. "Waduh, gimana ini, anakku pasti marah besar.... majalah itu koleksi kesayangannya lho. Dapetinnya susah banget."

Saat itu juga si bapak lapor ke anaknya dan menyambangi Nunik di mejanya,

"Beneran, tho, Nun, anakku marah besar. Dia sampe dia bilang begini sama aku, 'Pa, mana, tuh, yang namanya Nunik, mau gue tonjok! Wartawan apaan, sih, dia, nggak becus jaga barang!' Dia minta ketemuan sama kamu buat mencari solusi yang terbaik. Oh, ya, kalau nanti ketemuan, jangan tawarin kompensasi berupa uang. Karena menurut dia uang berapa pun nggak akan bisa ngegantiin majalah yang ilang."

Majikan saya dan temannya, seorang ekspresionis sejati, berteriak-teriak gila mendengar cerita absurd ini. Keanehan masih berlanjut, tapi cerita saya akhiri sampai sini dulu. Soalnya, saya mau dibersihkan oleh majikan. Peristiwa langka ini harus saya nikmati benar-benar.

Monday, April 03, 2006

 
Majikan saya dan istrinya sepakat belum mau punya anak. Mungkin tahun depan, mungkin dua tahun lagi.
Berikut tanggapan sejumlah pihak terhadap keputusan mereka

"Ya, ngono kuwi anakku, Nyah. Katanya masih mau santai2 dulu, padahal aku udah pengen banget nimang cucuuuuu...." --> ibu majikan saya kepada tetangganya yang hobi jalan keluar rumah pake daster tali satu.

"Eh, buruan punya anak, ntar peranakan istrinya kering, lho." --> mbak penjual jus

"Nggak apa2 kalo belum mau punya anak. Tapi kemarin mama ngeliat kupu2 terbang di dapur. Kamu udah isi, ya? --> percakapan telepon istri majikan saya dengan ibunya

"Beneran, deh, punya anak itu enak. Beneran, deh. Bawaannya pengen cepet2 pulang ke kantor. Beneran, deh" --> komentar teman-teman majikan saya yang sudah menikah

 

prep vs plot

Buku terakhir yang dibeli majikan saya judulnya "the plot against america." Novel sejarah, gitu, deh. Sempat dia bawa ke kantor beberapa minggu, ngendon di atas saya berhari-hari. Sayang kecepatan membacanya lambat banget. Setau saya rata2 dua halaman per hari. Ga tau sibuk kerja, ga tau bego. Kayaknya sih dia rada nyesel beli itu novel. Bagus, sih, tapi kok, gak bikin pengen baca terus-terusan, ya?

Nggak berapa lama istri majikan beli novel judulnya "prep". Suka duka cewek 16 tahun hidup di sekolah asrama. Baanya antusias banget. Menjelang ending, dia bela2in baca di parkiran PS sambil nunggu shuttle bus pake senter. Beneran. Majikan saya lumayan ngiri. Dia gak segitunya sama "the plot..." Begitu "prep" abis dibaca istri, dia langsung pinjem. Eh, dia ketagihan bacanya.
"Prep" kelar dibaca majikan saya dalam waktu satu minggu.

"Makanya, beli novel yang ringan2 aja, tapi bagus," kata istrinya.
Majikan saya cuma nginyem.

 

Creepy Baby

Majikan masih ngejogrog di depan saya. Sibuk ngetik ini itu. Speaker kecil warna putih dibiarkan dalam posisi mengangkang di atas saya. Apa susahnya, sih, tinggal colok ke walkman. Kasih sedikit hiburan ke kita orang, biar cuma lagu-lagu 80-an. Dari pada sepi seperti sekarang. Kayak kuburan, rumahnya si "creepy baby."

Ngomong2 soal "creepy baby," saya kasih bocoran cerita majikan saya sama istrinya.

Satu malam, sepulang kantor, ada keramaian di depan rumah Pak RT. Ternyata bayinya yang baru lahir meninggal karena kelainan jantung.

"Gimana, ngelayat, nggak?Apa besok aja?" tawar majikan saya
"Sekarang aja, deh. Nggak enak lagi, ke-gap pulang kantor masak langsung masuk rumah. Tuh, di depan rumah Pak RT banyak yang nongkrong.
"Ya udah."

Majikan saya dan istri jalan pelan-pelan ke rumah Pak RT. Makin dekat makin banyak orang.
Sampai dalam rumah salaman sama Pak RT sambil mengucapkan belasungkawa.

"Tuh, jenazah bayi saya," kata Pak RT sambil nunjuk ke arah jenazah bayi dibungkus kain batik, jarak cuma setengah meter dari tempat majikan saya dan istri duduk.

Majikan saya dan istri nggak berani ngeliat wajah si bayi. Tadi udah liat sekilas dan perasaan putih banget, kekuning-kuningan, malah. Kayak boneka porselen. Mau nundukin kepala terus nggak enak sama Pak RT, mau nengadah bener2 kaget campur nggak percaya liat ada wajah seputih itu. Ya, iyalah, namanya juga mayat. Bego juga, nih, majikan saya. Masalahnya mereka berdua belum pernah liat jenazah bayi.

Pulang dari rumah Pak RT, majikan saya dan istri nggak ada yang berani tidur deket jendela. Bayangan jenazah bayi pak RT masih menari-nari di kepala mereka. "Creepy baby," kata istrinya.

 

Berantakan

Ada enam meja di "pulau" kami. Saya salah satu yang paling berantakan :(
Majalah, kertas, tape recorder, kaset, botol parfum, tagihan handphone, buku. Semuanya diletakkan majikan begitu saja di atas saya. Meja sebelah kanan saya lumayan rapi, cuma 10 benda diatasnya. Sedang saya? Paling sedikit ada 30 benda dalam posisi tidak beraturan. Satu hari majikan saya kelabakan mencari flashdisk yang hilang. Yang ketemu malah risol basi.
Dia berkali-kali membereskan saya, tapi hanya bertahan 30 menit - 2 hari. Selebihnya saya mirip kandang babi.

 

Morning Madness

Tadi pagi, baru pukul sepuluh, tapi di atas saya sudah berserakan dua bungkus wafer cokelat dan satu styrofoam bekas wadah mi goreng. Di depan saya, majikan saya tengah duduk selonjor, wajahnya nampak berkeringat dan kekenyangan.
Meski sudah menyalakan komputer sejak dua puluh menit yang lalu, belum nampak tanda-tanda dia akan mulai bekerja.
Ya, ampun, bukannya membersihkan permukaan saya dari remah makanan, dia malah mengambil majalah dari dalam tas dan mulai membaca.

This page is powered by Blogger. Isn't yours?